Suwanting

Yogyakarta, 22 Februari 2019. Tuhan yang baik. Ijinkan saya berjalan kembali pada lebatnya hutan pinus suwanting. Saya ingin menjadi terjal agar bisa sampai pada setiap pos yang dirindukan. Saya ingin menjadi sabar untuk tidak marah pada setiap lelah. Tuhan yang baik. Ijinkan saya merindu pada Gunung Merbabu. Ketika matahari mulai tenggelam. Sunyi mulai menyelimuti. Saya …

Continue reading →

Teduh

Lembayung dipelupuk mata telah menjadi gelap. Ada anak muda dirundung duka oleh sebab kepergiannya. Mata-mata tertidur lelap. Suara sunyi kembali. Yogyakarta, 3 Februari 2019.

Continue reading →

Menjadi berani

9 tahun memilih berani. Berbahagialah anak muda. Berbahagialah, karena engkau makan dari keringatmu sendiri. Tuhan bersama orang orang yang mau bekerja keras. Bersama orang orang yang berani. Ada anak muda menyulam mimpi indahnya saat kecil. Dengan kain pengharapan bapak dan ibunya. Perlahan kain itu robek dihantam badai, dihempas ombak, dibunuh mulut mulut bajingan. Yogyakarta, 29 …

Continue reading →

Aku ingin membekukan waktu

Aku ingin membekukan waktu di tempat ini, bertemu nona di meja, meminum kopi, menyulam mimpi mimpi, esok lusa dan nanti. Buruh seduh telah meracik kopi terbaik malam ini, senyum nona telah merekah. Nona yang berani, yang patah hatinya karena merindu atau nona yang telah melabuhkan hatinya pada bung, bukan aku. Aku yang takut, begitu takut. …

Continue reading →

Sia-sia kata-kata

Yogyakarta, 18 Agustus 2018. Sia sia kata kata, merdeka merdeka kau bilang, sementara kau lihat masih banyak manusia menahan lapar, jangan hukum manusia mencuri karena lapar, hukum dirimu yang lupa dengan orang disekitarmu, lupa tetanggamu. Sia sia kata kata, merdeka kau bilang, kau adalah sebenar benarnya pencuri, membunuh jantung pengharapan dengan malasmu, sia sia kata …

Continue reading →