Aku ingin membekukan waktu

Aku ingin membekukan waktu di tempat ini, bertemu nona di meja, meminum kopi, menyulam mimpi mimpi, esok lusa dan nanti.

Buruh seduh telah meracik kopi terbaik malam ini, senyum nona telah merekah.

Nona yang berani, yang patah hatinya karena merindu atau nona yang telah melabuhkan hatinya pada bung, bukan aku.

Aku yang takut, begitu takut. Nona, aku menemukanmu dalam lembar buku puisi oleh oleh khas jalan sunyi, aku tulis kembali, aku bawa ke langit, bertemu Tuhan, berharap namamu menjadi hujan, memberikan tenang untuk nona sendiri serta bung.

Bung, jangan takut. Ini bukan puisi atau sajak untuk nonamu. Aku bukan Cholil efek rumah kaca yang pandai membuat karya musik, aku bukan Wira Nagara yang pandai membuat karya puisi, aku bukan bung yang pandai merebut hatinya nona.

Bung, aku pinjam nonamu dalam tulisan ini. Besok aku kembalikan utuh, aku takan menyentuhnya. Aku yang takut, begitu takut. Nona yang cantik dengan komposisi senyum termanis, mengalahkan es teh manis di angkringan pagi kemarin. Bung, maafkan aku menyayanginya. Sekali ini saja.

Ahh sudahlah, Tuhan telah mentakdirkan aku pemurung, aku yang takut, begitu takut.

Yogyakarta, 12 Januari 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *